Login Form






Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar

Random Photo

Syndicate

Beranda arrow Arsip Berita arrow Tahun 2000 arrow Polisi- Mukul Lagi...Nembak Lagi...
Polisi- Mukul Lagi...Nembak Lagi... PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengguna: / 0
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh Ferry   
Sabtu, 01 Maret 2008
Tabloid Mingguan MAL, Edisi Minggu I November 2000
Polisi- Mukul Lagi...Nembak Lagi...

     Budaya Kekerasan masih melekat pada aparat sipil bersenjata itu. Peluru hampa, pentungan dan popor senapan pun jadi jawaban penyelesaian masalah. Sampai kapan, Pak Polisi
   Agus Salim, mahasiswa Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, tak pernah menyangka kalau Selasa siang (7/11/2000) adalah hari naas baginya. Saat itu dia asyik bercengkrama dengan sesama kawan-kawan mahasiswa ketika satu truk Brimob melintas di hadapan mereka. Lantaran ada yang beradu mulut di antaranya, para Polisi-Polisi remaja itu kemudian turun dan menanyakan ihwalnya. Rupanva mereka tersinggung mendengar di antara mahasiswa bersuara keras. Mereka pikir suara keras itu ditujukan pada mereka. Saat itu mereka juga menanyakan apakah para mahasiswa itu mabuk. Ketika Agus menjawab Tidak. Bukan tanggapan yang didapatnya, tapi bogem mentah dari sejumlah anggota Brimob itu.
     Lantaran Agus adalah anggota Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala), salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang terkenal garang di kampus, maka solidaritas pun gampang digalang.
     Akhirnya, sejumlah mahasiswa pun menggelar aksi massa. Mereka kemudian melempari kaca-kaca Pos Polisi Sektor Palu Timur. Kaca-kacanya pun berantakan. Mereka juga merusak TV dan alat alat komunikasi milik para serdadu sipil itu. Massa mahasiswa kemudian mengalir hingga menuju perempatan JL S Parman dan Samratulangi. Sampai Kemudian terjadi chaos dengan Polisi di sana. Bentrok fisik pun tak dapat dihindarkan, dan pemicunya ketika mahasiswa rnulai melempar ke arah aparat yang membarikade massa aksi itu. Seperti biasanya, aparat pun membalas dengan pentungan, popor senapan dan tembakan peluru hampa. Kederlah para mahasiswa itu. Massa kemudian kocar-kacir.
     Baru kemudian terdengar Zulfikar, mahasiswa Peternakan dan Ikbal, merintih kesakitan. Keduanya mengalami cedera serius. Bahkan sampai saat ini, Zul demikian anak muda itu dipanggil masih terbaring dalam keadaan kritis di Rumah Sakit Bala Keselamat.an Palu. Dia menyusul Agus, yang sudah duluan babak belur dipermak brimob.
    Terang saja, solidaritas massa mahasiswa kemudian menggunung. Hingga jelang magrib Selasa (7/11/2000) massa mahasiswa masih menggerombol di depan Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Undata. Solidaritas dari para alumni pun kemudian mengalir. Salah satunya dari Rasvidi Bakry, SH.
    “Kami tidak mempersoalkan bahwa malam ini ada kawan-kawan kami yang terluka. Yang kami persoalkan bahwa ternyata kultur kekerasan masih begitu melekat pada tubuh Polisi. Mengapa kekerasan menjadi jawaban untuk menyelesaikan persoalan. Sava sungguh mengutuk itu.” kata mantan aktivis mahasiswa. yang kini menjadi Direktur Eksekutif Yayasan Bantuan Hukum (YBH) Rakyat itu.

Bentrok Saat Negoisasi
 
     Rupanya, massa mahasiswa kembali menggelar aksi massa lagi. Tak kurang dan 5 ribu orang, turun ke jalan. Mereka menuntut Kapolda bertanggungjawab atas Insiden Tondo. Selasa (7/11/2000).
    Sejak pukul 08.00 wita, Rabu (8/11/ 2000), massa mahasiswa bergerombol di depan gerbang utama Universitas Tadulako. Semua angkutan kota yang mengangkut mahasiswa dicegat. Puluhan angkutan kota dan sejumlah truk kemudian menuju ke Mapolda Sulteng. Sampai kemudian kerusuhan terjadi. Setelah dari arah mahasiswa ada lemparan batu yang hampir mengenai aparat.
    Aparat dan Perintis dan Brimob Polda Sulteng pun lalu mengejar dan menghajar massa dengan pentungan dan tendangan. Mahasiswa yang sebelumnva solid itu, kocar-kacir. Di antaranya lari bersembunyi di rumah-rumah warga setempat di JL Sudirman. S Parman dan Samratulangi. Palu Timur.
    Aparat yang tidak terkendali dan massa mahasiswa yang mulai tak terkontrol, kian memanaskan situasi. Sejumlah aparat kemudian menggedor paksa rumah-rumah warga setempat yang diduga sebagai tempat persembunyian mahasiswa. Bahkan salah satu rumah di JL Samratulangi No 66, digedor paksa aparat dengan menendang pintu rumah itu. Karuan saja, pemilik rumah tadi marah dan hampir memukul salah seorang aparat.
     Massa yang kocar-kacir tadi kemudian menyusun barisan kembali, sampai kemudian Brimob Sulteng melepas tembakan dan kembali mengejar mereka. Akibatnya 62 orang mahasiswa luka luka, dan kini di antaranya sedang di rawat di tiga rumah sakit di Kota Palu. Empat orang di antara dalam keadaan kritis. Dengan rinciannya, satu orang tertembak di rusuk, satu orang tertembak di bagian dada dan dua orang lagi kini dalam keadan koma Di RS. Bala Keselamatan.
     Mukhlis, mahasiswa angkatan 95. D III Teknik Sipil Untad yang tertembak itu, saat ini juga dalam kritis. Begitu pula Yeni Wijayanti, mahasiswi yang menjadi korban itu, saat ini masih terbaring di RS. Tentara dalam keadaan kritis.
     Dari pihak aparat jumlah korban mencapai 11 orang. Satu di antaranya adalah Kepala Direktorat Hukum Polda Sulteng Superintendent Adhi S Putra. “Saat ini mereka dirawat di Dokkes Polda Sulteng. Termasuk juga para mahasiswa itu kata Kaditserse Polda Sulteng Superintendent Achmad Abdi.
     Sampai saat ini sudah 63 mahasiswa yang dimintai keterangan. Sementara tujuh anggota Polisi juga sementara dalam tahanan Provost Polda Sulteng.
     Aksi yang terus berlanjut hingga pukul 15.00 itu, memang terhitung aksi yang paling besar pasca turunnya Soeharto. Bahkan aparat yang berjaga di lapangan terlihat bertindak sangat represif. Akibatnya sejumlah intel Korem dan Polresta Palu kena gebuk Sat Perintis dan Brimob yang ngarnuk itu. Apalagi saat itu sejumlah perwira tak mampu mengendalikan pasukannya yang membabibuta tersebut.
     Tak hanya itu Kapolda Sulteng Brigjen Zainal Abidin Ishak, yang turun ke lapangan pun diacuhkan, sampal kemudian Kapolresta Palu Superintendent Sudargo memukul Serda Widodo, yang menghajar mahasiswa di depan Kapolda Sulteng.
Kapolda sendiri, kepada wartawan menyesalkan tindakan aparat itu. Sampai-sampai Dia berkata, jika terbukti melakukan pelanggaran, aparat akan segera ditindak. Saat ini, “Tujuh orang anggota polisi yang kita tahan itu, sejak malam kemarin kita sudah periksa secara maraton. Sekarang mereka sementara berada dalam tahanan Provost Polda Sulteng. Adapun mahasiswa yang tadi sempat kami tahan, itu tidak akan kami inapkan. Kalau kami sudah selesai meminta keterangan kami akan segera melepaskan mereka. “kata Zainal.
      Sampai pukul 16.30 hari ini, mahasiswa masih terkosentrasi di Jl Samratulangi, dan menurut Muammar, salah seorang mahasiswa itu, mereka akan segera membangun Posko di situ. Posko itu dimaksudkan untuk menjadi pusat inforrnasi dan koordinasi aksi massa yang mereka rencanakan akan terus berlangsung sampai aparat memperjelas penanganan kasus pemukulan yang melibatkan anggota Polisi itu. Mereka juga, menuntut agar Kapolda bersiap untuk mundur jika tidak bisa menyelesaikan kasus tersebut.
     Yang jelas saat ini ada lagi darah yang tertumpah. Kita masih terlalu akrab dengan kekerasan.Ya, kultur kekerasan itu masih erat melekat pada aparatur negara kita. Karena kita mengamini atau karena kita juga memilih kekerasan sebagai jalan keluar penyelesaian konflik? Entahlah. Yang jelas Ambon, Sambas dan Poso, menjadi contoh betapa kita terlalu akrab dengan kekerasan.

-tim mal

 
< Sebelumnya   Berikutnya >