Login Form






Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar

Random Photo

Syndicate

Beranda arrow Arsip Berita arrow Tahun 2008 arrow Dewan Diminta Hearing Pemkot dan PLTU
Dewan Diminta Hearing Pemkot dan PLTU PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengguna: / 0
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh Ferry A   
Senin, 31 Maret 2008
SKH Radar Sulteng, Senin 31 Maret 2008
 
Dewan Diminta Hearing Pemkot dan PLTU

PALU- Kekosongan batu bara yang menyebabkan setengah wilayah Palu menjadi gulita mendapat tanggapan dari Perhimpunan Bantuan Hukum Rakyat (PBHR) Sulteng.
    Koordinator Divisi Demokratic Governance PBHR, Muh Masykur, mengatakan masalah pemadaman listrik yang lagi-lagi disebabkan oleh mesin PLTU akibat kekosongan bahan bakarnya itu, mestinya tidak perlu terjadi. Apalagi sebelumnya satu unit mesin PLTU sudah rusak. Masykur, menilai bahwa manajemen PLTU amburadul dan tidak memiliki perencanaan matang. Mestinya, jauh-jauh hari sebelum terjadi kekosongan batu bara pihak PLTU sudah bisa melakukan pemesanan, untuk menghindari kondisi seperti yang terjadi saat ini.
    “Warga sudah terlalu banyak dirugikan. DPRD Kota Palu, juga sepertinya membiarkan persoalan ini berlarut-larut, mestinya dewan menghearing Pemkot, PLTU dan PLN, untuk mengetahui, apa sebenarnya yang terjadi dengan listrik kita di kota Palu,” tegasnya.
    Dikatakannya, yang perlu dipertanyakan sekarang, adalah tindakan yang telah dilakukan anggota dewan kota, dalam rangka menjawab keresahan warga akibat pemadaman yang tidak pernah henti-hentinya di kota Palu.
    “Jangan-jangan dewan kota takut menghearing ketiga pihak yang bertanggungjawab terhadap listrik di Kota Palu,” katanya.
    Mengenai informasi bakal dibentuknya tim independent, yang katanya akan menjadi tim yang mengkaji masalah kelistrikan di Kota Palu, hanya menjadi wacana dan menyenangkan hati warga saja. Buktinya, hingga saat ini persoalan padamnya lampu di Kota Palu, masih belum ada solusinya.
    “Jadi saya kira pelemparan kantor PLN di Taweli itu bentuk kekecewaan warga akibat tidak ada solusi dari pemadaman listrik di kota Palu dan ini harus secepatnya direspon oleh dewan kota untuk mencari tahu permasalahan sebenarnya, sehingga warga juga tidak bertanya-tanya. Jangan sampai warga sendiri yang melakukan langkah gugatan melalui class action karena warga sudah terlanjur dirugikan,” ungkapnya.
    General Manager PT Pusaka Jaya Palu Power PLTU Panau, Slamet VP yang dihubungi Minggu kemarin, mengungkapkan mesin PLTU unit I yang sebelumnya tidak dapat beroperasi karena kehabisan stok batu bara Sabtu (29/3) pukul 18.50 Wita sudah kembali beroperasi seperti biasa. Menurut Slamet, batu bara dari Kalimantan tiba di Panau hari Kamis (27/3) hanya saja belum dapat langsung digunakan karena harus dimasukkan dalam tahapan system untuk dilakukan pembakaran dengan waktu yang dibutuhkan kurang lebih 9 jam kemudian PLTU baru beroperasi.
    “Keterlambatan pasokan batu bara akibat iklim dimana hujan dan ombak tinggi sehingga pesanan batu bara lambat karena kapal tidak mau berlayar dengan cuaca buruk. Saat ini jumlah batu bara yang ada di gudang PLTU Panau 5.000 ton dengan demikian mesin unit I sudah kembali beroperasi seperti biasa,” pungkasnya. (ron)
Pemutakhiran Terakhir ( Rabu, 04 Pebruari 2009 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >