Login Form






Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar

Random Photo

Syndicate

Beranda arrow Arsip Berita arrow Tahun 2008 arrow Terkait Tewasnya Madi
Terkait Tewasnya Madi PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengguna: / 0
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh Ferry A   
Selasa, 08 April 2008
SKH Suara Sulteng, 8 April 2008
 
Terkait Tewasnya Madi
YPR: Polisi Tidak Profesional

PALU – Tewasnya Madi pada penyergapan aparat kepolisian sabtu (5/4) akhir pekan lalu dianggap Deputi Direktur Yayasan Pendidikan Rakyat (YPR) Ashar Saleh, SH sebagai pembantaian dan tindakan tidak professional oleh polisi
    Menurutnya, Madi dapat saja ditangkap hidup-hidup bila polisi dalam melakukan penyergapan menggunakan standar operasional prosedur. Karena katanya, dengan kondisi ‘Sou’ (Gubuk) 2 x 2 meter, tempat Madi di kepung tim densus 88 dan tanpa memegang senjata tajam, tidak mungkin dapat melakukan perlawanan terhadap polisi.
    “Tidak betul Madi melakukan perlawanan karena pada saat itu, menurut keterangan saksi yang melihat dan mendengar langsung penyergapan, Madi hanya ditegur sekali dengan perkataan ‘hei turun kau’ dan selanjutnya dibrondong peluru,” terang Anca, panggilan akrab Ashar.
     Dalam rekontruksi yang dilakukan YPR bersama Kontras Sulawesi, Walhi dan Yayasan Tanah Merdeka di TKP, kata Yashar, ternyata Madi di brondong sekitar 30-an amunisi atau peluru. Rekontruksi ini dilakukan dengan menghadirkan seorang saksi mata dan sekitar 30-an masyarakat salena.” Kami menemukan sekitar 30 bekas tembakan di TKP dan 18 selonsong peluru,”sebut Anca.
   Ditambahkan, polisi telah melakukan tindakan yang tidak manusiawi, dengan memperlakukan jasad Madi seperti bukan manusia. Sementara dugaan kekebalan Madi atas senjata tajam dan senjata api menurut Anca akhirnya terbukti jika Madi tidak memiliki kemampuan seperti yang digembar-gemborkan selama ini.
   Tentang aliran sesat, Anca menjelaskan bahwa itu tidak benar. Stigma tersebut sebenarnya sudah tidak ada karena sebelumnya MUI Sulawesi Tengah sudah mengklarifikasi tidak ada aliran sesat tersebut. Sedang opini tentang senangnya masyarakat setelah tertembaknya Madi, dibantahnya, karena pada dasarnya kata Anca, masyarakat mengalami tekanan prikologis dari aparat kepolisian yang membawa peralatan lengkap seperti kendaraan watercannon, truk pasukan polisi dan beberapa mobil patroli.
    “Mana mungkin seorang istri merasa senang atas meninggalnya suaminya, sedang mereka mempunyai 4 orang anak,” jelasnya. Kematian Madi menyisakan tabir tentang peristiwa yang terjadi 2,5 tahun lalu dimana 3 orang polisi dan seorang warga Dusun Salena meninggal.“Seharusnya Madi ditangkap hdiup-hidup agar terungkap rahasia dibalik peristiwa tersebut,” pungkasnya. ANC
Pemutakhiran Terakhir ( Selasa, 10 Pebruari 2009 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >