Publikasi Media
| Berita |
| Arsip Berita |
| Tulisan |
Welcome
| Beranda |
| Hubungi Kami |
| Links |
| TENTANG KAMI |
| PUBLIKASI |
| SEARCH |
Kampanye
| Bulletin |
| Buku |
| Poster |
| Kertas Posisi |
Login Form
Random Photo
Beranda
Arsip Berita
Tahun 2008
Diduga Tidak Melawan, LSM Usut Kematian Madi
Arsip Berita
Tahun 2008
Diduga Tidak Melawan, LSM Usut Kematian Madi | Diduga Tidak Melawan, LSM Usut Kematian Madi |
|
|
|
| Ditulis Oleh Ferry A | |
| Selasa, 08 April 2008 | |
|
SKH Mercusuar, 8 April 2008 Diduga Tidak Melawan
LSM Usut Kematian Madi PALU, MERCUSUAR – Kasus kematian Madi yang dituding sebagai pemimpin aliran sesat di Dusun Salena, Kelurahan Buluri, Kecamatan Palu Barat terus diusut sejumlah LSM yang konsisten terhadap penegakan hak asasi manusia (HAM). Terutama menyangkut motiv pembunuhan terhadap Madi saat penyergapan Sabtu pecan lalu. LSM yang mengusut kasus ini antara lain, LBH Bantaya, LPS-HAM dan PBHR Sulteng. Dari rapat yang digelar disekretariat LBH Bantaya tadi malam, mereka menduga kuat terjadi pelanggaran HAM dalam kasus ini. Seperti hak berkeyakinan, dimana Madi menjadi sasaran polisi ketika diketahui sering menggelar ritual di Salena medio 2005 lalu. Selain itu, dari sejumlah informasi yang dihimpun sejumlah aktivis LSM ini di lapangan (pasca kematian Madi), disebutkan bahwa saat terjadi penyergapan Madi sama sekali tidak melakukan perlawanan, apalagi saat itu Madi berada di pondok yang berukuran 2x2 meter persegi. “Secara logika, dengan ukuran pondok sekecil itu, kecil kemungkinan Madi melakukan perlawanan. Tombok yang ditemukan di pondok itu berada di bawah alas lantai dan dalam keadaan terbungkus kain,” kata Muslimun. Sementara itu, Koordinator Kontras Sulawesi, Edmons Leonardo Siahaan menandaskan, pihak kepolisian harus terbuka terhadap kasus yang mengakibatkan hilangnya nyawa Madi. Sehingga public tidak menilai bahwa tindakan polisi berlebihan, dan seolah-olah ada motiv balas dendam atas tewasnya tiga anggota polisi 2005 lalu ketika hendak menangkap Madi. “Selain tidak menilai, tindakan ini tidak sesuai Protap,” ujar Edmond via short massage servis (SMS) tadi malam. Selanjutnya menurut Edmond, Pemerintah Daerah (Pemkot dan Pemprov) segera turun tangan mengatasi masyarakat Salena yang merasa ketakutan, akibat penggerebekan polisi saat menangkap Madi. “Teman-teman juga sedang mencari data dilapangan untuk ngcross cek, apakah terjadi tindakan kekerasan terhadap orang lain, selain Madi,” terangnya. Senada dengan itu, Deputi Yayasan Pendidikan Rakyat (YPR), Anca mengatakan, dari hasil survey mereka ditemukan 30-an bocoran peluru di dinding pondok tempat Madi bermukim, dan ceceran darah di lantai pondok tersebut. “Sangat aneh, kalau dikatakan ada perlawanan dari Madi. Apalagi saat itu pondoknya sudah dikepung puluhan anggota polisi,” kata Anca di sekretariatnya. Ditempat terpisah, tiga warga Salena yang ditangkap Polda kemarin (7/4) sekitar pukul 12.15 Wita dilepas setelah beberapa hari menjalani pemeriksaan intensif. Dari hasil pemeriksaan oleh tim Reskrim Polda, tidak ditemukan keterkaitan mereka bertiga dengan kelompok Madi. “Kenapa kami tangkap, karena saat penyergapan ketiga orang itu bertepatan bersama Madi,” kata Humas Polda, AKBP Irfaisal Nasution di ruang kerjanya. Sebelumnya, Kapolda Sulteng, Brigjen Pol Badrodin Haiti mengatakan, penangkapan Madi telah menjadi planning kepolisian sejak sepekan silam. Karena tim intelijen berhasil memperoleh informasi bahwa buronan itu sering turun gunung untuk keperluan hidup. “Karena mendapat informasi itu, maka kami menggelar operasi penggerebekan. Awalnya, kami menemukan persembunyian juru bicara Madi (Tina Endi.Red). Mengetahui keberadaan kami, wanita itu kemudian berteriak-teriak dan melaporkan kepada Madi. Atas petunjuk itu, maka tim Densus yang dipimpin Kadensus 88 AT Polda Sulteng, Kompol Suryo berhasil menemukan lokasi persembunyian Madi dan berhasil menemukannya. Akhirnya, kami lumpuhkan Madi, karena berusaha menyerang aparat,” jelas Kapolda Sulteng, Brigjend Pol Badrodin Haiti yang ditemui tak jauh dari tempat kejadian perkara (TKP). Dia menambahkan, dipersembunyian Madi, yakni di Lompu (di atas pegunungan Dusun Salena. Red) polisi berhasil mengamankan sebilah parang, tombak, panah dan selempang warna kuning yang digunakan Madi sebagai senjata. Selain itu, lokasi ini sering digunakan sebagai tempat ritual, yang biasanya dilakukan tiap malam jum’at, malam minggu dan malam senin. “Saya tidak tahu apakah pengikut yang tertangkap adalah pengikut baru atau pengikut setia. Menurut perkiraan, terdapat 30 sampai 40 pengikut Madi yang belum tertangkap. Nanti dilihat, langkah pengusutan selanjutnya,” terang Kapolda. Pada saat otopsi jenazah, ditemukan dua benda pusaka milik Madi, berupa Botiga (mustika besi menurut kepercayaan mereka yang bisa menyebabkan kebal senjata tajam dan senjata api.Red) dari bajunya. Kronologisnya, 25 oktober 2005 silam, Madi beserta pengikutnya berhasil menewaskan tiga aparat kepolisian diantaranya, Kasat Intel Polresta Palu, AKP Imam Hariadi, Kasat Samapta Polresta Palu, AKP Fuadi Chalis dan Brigadir Arwan, anggota Polsekta Palu Barat. Pertikaian antara aparat kepolisian dan pengikut Madi itu disebabkan ketidakpuasan Madi terhadap aparat yang memintanya tidak mengajarkan aliran sesat. Madi memerintahkan warga Salena tidak melaksanakan shalat lima waktu dan menjalankan ibadah puasa. Madi yang menganggap dirinya benar, menyerang polisi dengan senjata tajam, berupa parang, panah, tombak dan sumpit. Setelah itu, Madi beserta pengikutnya menghilang, meskipun dilakukan pencarian, namun hal itu sia-sia. Ditempat terpisah, Ketua DPRD Kota (Dekot) Palu, Mulhanan Tombolotutu mengaku, penggerebekan yang dilakukan aparat keamanan hingga terbunuhnya Madi merupakan sebuah keberhasilan. Ia mengatakan, keberhasilan itu patut disyukuri karena Madi dinilai telah meresahkan masyarakat sekitar. “Informasi yang saya terima ternyata kematian Madi disyukuri warga Dusun Salena. Ulah Madi selama ini ternyata meresahkan warga. Aparat kepolisian telah melaksanakan tugas dengan baik karena menangkap Madi,” katanya, di kantor dewan kemarin. Soal apakah penembakan yang mematikan Madi melanggar HAM atau tidak kata orang nomor satu di lembaga legislative Palu itu, masih perlu kajian mendalam. Ia belum bias menyatakan melanggar atau tidak. KUS/URY/TOP |
|
| Pemutakhiran Terakhir ( Selasa, 10 Pebruari 2009 ) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Konsultasi Hukum

Jika Anda punya persoalan menyangkut hukum. Silahkan konsultasikan kepada kami. Anda bisa datang langsung ke kantor kami. Konsultasi juga bisa melalui email. Melalui email silahkan klick sini













