Publikasi Media
| Berita |
| Arsip Berita |
| Tulisan |
Welcome
| Beranda |
| Hubungi Kami |
| Links |
| TENTANG KAMI |
| PUBLIKASI |
| SEARCH |
Kampanye
| Bulletin |
| Buku |
| Poster |
| Kertas Posisi |
Login Form
Random Photo
Arsip Berita
Tahun 2008
Korban Bom Poso Butuh Perhatian | Korban Bom Poso Butuh Perhatian |
|
|
|
| Ditulis Oleh Ferry A | |
| Rabu, 28 Mei 2008 | |
|
Suara Sulteng, Rabu, 28 Mei 2008 Korban Bom Poso Butuh Perhatian PALU- Kerusuhan Poso beberapa tahun silam meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat setempat. Namun pasca konflik bernuansa SARA itu berakhir, perhatian Pemerintah terhadap korban hingga saat ini belum ada, baik dari Pemeirntah Kabupaten (Pemkab) Poso maupun Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Padahal bantuan dari Pemerintah Pusat sudah mengalir begitu banyak ke Poso pasca konflik. Menurut Yahya Aling (39) salah satu korban konflik poso, yang kini mengalami amputasi kaki akibat terkena ledakan bom mengaku belum mendapatkan bantuan dari Pemda Poso, kecuali dari pihak Asuransi. Ia mengakui telah berkali-kali melakukan pertemuan dengan para pejabat, baik pejabat Pemkab Poso maupun pejabat Pemprov, seperti Wakil Gubernur H Ahmad Yahya. Menurutnya, semua hanya mengarahkan ke Dinas Kesejahteraan Sosial (Dinkesos) Sulteng. Dari arahan itu ia pun menghadap ke Dinkesos Sulteng dan diterima oleh Kepala Subdin Kesos Jufri. Apa yang ia dapatkan, Jufri mengaku kalau dana bantuan konflik Poso tidak ada, jika ingin meminta bantuan sebaiknya memasukkan proposal. Permintaan untuk mengajukan proposal pun ia penuhi, namun tetap tidak membuahkan hasil dengan berbagai alasan. Padahal ia harus menghidupi keluarga dan ketiga anaknya. Selanjutnya ia mengatakan, sebagai korban konflik Poso, ia sangat berharap agar Pemerintah bisa memperhatikan para korban konflik Poso termasuk dirinya. "Saya minta kepada sesama korban konflik Poso kembali beraktivitas, meskipun sebagian anggota tubuh kita hilang. Meskipun kita tahu bahwa berapa banyak dana yang masuk ke Kabupaten Poso untuk membantu masyarakat, khususnya korban konflik Poso, namun hingga saat ini dana itu belum menyentuh ke korban Poso," akunya. Untuk itu, ia mengimbau Pemerintah agar memperhatikan korban konflik Poso, menyangkut dana rehabilitasi. Sementara itu, Muammar Koloi dari Perhimpunan Bantuan Hukum Rakyat (PBHR) Sulteng, yang kala itu mendampingi Yahya saat menggelar jumpa pers di Kantor PBHR Sulteng, Jalan Sutoyo, selasa (27/5), mengaku sangat tidak percaya bila korban Poso seperti Yahya Aling, selama ini belum mendapat perhatian Pemerintah. Ia menyanyangkan bila upaya Yahya untuk bisa mendapatkan bantuan dengan terus menemui pihak-pihak yang berkompeten namun tidak mendapat respon, bahkan terkesan diacuhkan. Korban, kata Muammar, yang kini menggunakan kaki palsu masih membutuhkan biaya sekitar Rp15 juta untuk berobat ke Yogyakarta karena kaki palsunya yang kini ia gunakan sudah tidak layak, karena cukup lama, yakni empat tahun. DIN |
|
| Pemutakhiran Terakhir ( Kamis, 29 Mei 2008 ) |
| Berikutnya > |
|---|
Konsultasi Hukum

Jika Anda punya persoalan menyangkut hukum. Silahkan konsultasikan kepada kami. Anda bisa datang langsung ke kantor kami. Konsultasi juga bisa melalui email. Melalui email silahkan klick sini













