Publikasi Media
| Berita |
| Arsip Berita |
| Tulisan |
Welcome
| Beranda |
| Hubungi Kami |
| Links |
| TENTANG KAMI |
| PUBLIKASI |
| SEARCH |
Kampanye
| Bulletin |
| Buku |
| Poster |
| Kertas Posisi |
Login Form
Random Photo
Beranda
Arsip Berita
Tahun 2008
Yahya Aling, Korban Konflik Poso Yang Berjuang Mengganti Kaki Palsunya seharga Rp15 Juta (Bagian 2)
Arsip Berita
Tahun 2008
Yahya Aling, Korban Konflik Poso Yang Berjuang Mengganti Kaki Palsunya seharga Rp15 Juta (Bagian 2) | Yahya Aling, Korban Konflik Poso Yang Berjuang Mengganti Kaki Palsunya seharga Rp15 Juta (Bagian 2) |
|
|
|
| Ditulis Oleh Ferry A | |
| Kamis, 29 Mei 2008 | |
|
SKH Radar Sulteng, 29 Mei 2008
Yahya Aling, Korban Konflik Poso Yang Berjuang Mengganti Kaki Palsunya seharga Rp15 Juta (Bagian 2) Sejak kaki Buntung, Kebutuhan Hidup Ditanggung Istrinya Yang Petani Laporan: Supriyono Perjuangan Yahya Aling, korban konflik Poso yang kedua kakinya terpotong akibat terkena serpihan BOM di Pasar Sentral Poso, pada tahun 2004 lalu, sepertinya masih panjang. Hingga saat ini, kemanisan hati para pejabat di Provinsi ini, masih belum tersentuh. Namun demikian, dia mengaku masih akan terus berjuang, hingga mendapatkan pengganti kaki palsunya yang saat ini sudah tak layak pakai lagi. Bagi Yahya Aling, perjuangan untuk mendapatkan pengganti kaki palsunya yang sudah tak layak pakai lagi itu, bukan hal yang pertama kali dilakukan. Perjuangan itu sebenarnya telah dimulakan sejak tahun lalu, tepatnya setelah persendian bagian mata kaki palsunya sudah retak. Namun hingga saat ini perjuangan itu masih belum membuahkan hasil, meski telah mendatangi sejumlah pejabat berpengaruh dan berduit di daerah ini. Yahya Aling, belum mau menyerah. Karena baginya, perjuangan untuk mendapatkan kaki palsu, bukan hanya untuk dirinya sendiri. Tetapi untuk membuka mata Pemerintah, agar mau memperhatikan nasib para korban konflik Poso, yang saat ini hidupnya tak menentu. “Apa yang kami lakukan saat ini, hanya bagian kecil dari perjuangan para korban konflik Poso, yang hingga saat ini belum mendapatkan kejelasan dari Pemerintah. Banyaknya kucuran dana dari Pemerintah Pusat, yang diperuntukkan pada program rehabilitasi, hanya dinikmati segelintir orang saja. Sementara korban konflik Poso, dijadikan sebagai pelengkap proposal,” ungkap Yahya Aling, yang juga koordinator Forum Solidaritas Keluarga Konflik Poso. Yahya menceritakan, awal terpotong kedua kakinya hingga bagian lutut, terjadi pada 2004 lalu, tepatnya saat peristiwa bom di pasar sentral, yang mengguncang Kabupaten Poso. Pada saat peristiwa tersebut, dia mengaku sedang naik angkot, bersama dengan empat rekannya yang lain. Namun, setiba melintas di pasar sentral Poso, bom yang memang sebelumnya telah diletakkan diatas angkot yang ditumpanginya, tiba-tiba, meledak. Akibat ledakan itu, tiga diantara penumpangnya meninggal dunia, dan dua lainnya selamat, meski dengan kondisi tubuh yang tidak sempurna. Dan salah satu diantara dua yang selamat tersebut adalah Yahya Aling, warga dari Kelurahan Sepe, Kabupaten Poso. Lebih lanjut, setelah peristiwa mengenaskan itu menimpa dirinya, Yahya mengaku tidak bisa beraktivitas lagi seperti sedia kala. Dia mengaku, kebutuhan sehari-hari ditanggung oleh istrinya, yang berprofesi sebagai petani biasa. Sehingga praktis, dia tidak bisa melakukan aktivitas yang bisa menopang perekonomian keluarga. “Sejak kaki saya bunting, kebutuhan hidup saya, seluruhnya ditanggung oleh istri, yang bekerja sebagai petani. Jadi dengan kemampuan itu, tidak mungkin kami bisa mengganti kaki palsu yang harganya cukup mahal, bagi orang seperti saya,” katanya. Sedangkan soal kerusakan kaki palsunya, lanjut Yahya, sebenarnya telah terjadi sejak Setahun yang lalu. Namun, karena belum mendapatkan bantuan untuk menggantinya, akhirnya kaki palsu itu ibalut denganperban plastik, yang kemudian ditutup dengan kaos kaki. “Sebanarnya, sesuai dengan petunjuknya, kaki palsu yang saya gunakan ini, maksimal hanya digunakan selama empat tahun. Sekarang, umur kaki palsu ini sudah memasuki masa empat tahun, dan saat ini harus diganti,” sebutnya. Untuk mengganti kaki palsunya, Yahya membutuhkan dana sebesar Rp15 juta. Dengan perincian, Rp8 juta untuk harga kedua buah kaki palsu (kiri dan kanan), dan sisanya dia gunakan untuk biaya transportasi. Sebab untuk mengganti kaki palsunya, dia mengaku harus pergi ke Jogjakarta. Atas dasar itulah, Yahya bertekad, akan terus berjuang untuk mendapatkan haknya sebagai warga korban konflik Poso, dan kemurahan hati pejabat untuk sudi membantu meringankan penderitaan warganya. Katanya, jika perjuangan yang dilakukan saat ini berhasil, maka akan membuka mata Pemerintah untuk serius memperhatikan nasib para korban konflik Poso. Mudah-mudahan, apa yang kami lakukan saat ini, bisa membuka hati para pejabat untuk maupeduli dengan rakyatnya. Kami berharap, meski saat ini masih sendiri, namun perjuangan akan terus kami lakukan, hingga benar-benar mendapat perlakuan yang manusiawi,” tandasnya. |
|
| Pemutakhiran Terakhir ( Selasa, 10 Pebruari 2009 ) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Konsultasi Hukum

Jika Anda punya persoalan menyangkut hukum. Silahkan konsultasikan kepada kami. Anda bisa datang langsung ke kantor kami. Konsultasi juga bisa melalui email. Melalui email silahkan klick sini













