Publikasi Media
| Berita |
| Arsip Berita |
| Tulisan |
Welcome
| Beranda |
| Hubungi Kami |
| Links |
| TENTANG KAMI |
| PUBLIKASI |
| SEARCH |
Kampanye
| Bulletin |
| Buku |
| Poster |
| Kertas Posisi |
Login Form
Random Photo
| Runtuhnya Raksasa Ekonomi Dunia |
|
|
|
| Ditulis Oleh Muh. Masykur. M | |
| Kamis, 16 Oktober 2008 | |
|
Media Alkhairaat, 25 September 2008 Runtuhnya Raksasa Ekonomi Dunia Oleh: Muh. Masykur M Koord. Divisi Democratic Governance Satu per satu raksasa ekonomi dunia rontok. Berita terakhir yang menggemparkan adalah Lehman Brothers Holdings Inc diumumkan jatuh bangkrut, Senin (15/9). Bank investasi terbesar keempat di Amerika Serikat ini harus undur diri dalam percaturan ekonomi global. Padahal reputasinya sebagai raksasa ekonomi sudah tidak diragukan lagi. Didirikan sejak 158 tahun silam, industry bank investasi ini sudah malang melintang dengan beragam anak perusahaan-- Neuberger Berman Inc, Aurora Loan Services Inc, SIB Mortgage Corporation, FSB, dan Crossroads Group--yang bergerak dalam perdagangan saham, bisnis fixed- income, riset, manajemen investasi, pialang, dan pemberi jasa bank untuk warga superkaya (Kompas, 16-17/9). Sebelumnya, nasib serupa dialami Bear Stearns, Northern Rock, Fannie Mae, dan Freddie Mac, sejak krisis subprime mortgage menerjang perekonomian AS Juli 2007 silam. Lehman Brother diprediksi bukan yang terakhir dan akan ada banyak lagi industry lain yang akan jatuh bangkrut.
Kasus itu memicu kepanikan dunia. Pasar keuangan global terguncang, aliran modal dalam bursa saham bergerak liar dipicu adanya penarikan modal dalam jumlah besar oleh investor yang membutuhkan dana segar. Dari sana, aliran krisis keuangan global kembali merebak. Menariknya, karena episentrum krisis ini berada di AS yang notabene dikenal sebagai raksasa dunia. Krisis Kapitalisme Global Krisis keuangan yang kini menerjang perekonomian AS pertanda pondasi ekonomi raksasa dunia ini pada akhirnya retak akibat diterjang badai kebangkrutan Lehman Brothers inc, perusahaan ini menyatakan bangkrut karena tidak mampu melunasi utang pembiayaan di sector perumahaan sebesar 60 miliar dollar AS. Seperti diberitakan bahwa dibalik ketidakmampuan Lehman Brothers melunasi utangnya itu, karena dilatari oleh kerakusan mereka. Ternyata paras tua berperut tambun ini dikenyangkan dari beban utang yang pada akhirnya tidak mampu mereka pikul. Tepat diusia satu setengah abad, Lehman Brother’s, yang berjasa dalam membangun ekonomi AS jatuh bangkrut. Keberhasilannya mengumpul aset 639 miliar dollar AS sekaligus menimbun utang senilai 613 miliar dollar AS. Utang inilah menjadi penyebab sumber kebangkrutan. Efek domino dari situasi ini menjadi bola salju yang berimbas pada perekonomian global. Krisis keuangan mutahir ini memberi satu isyarat bahwa liberalisasi keuangan dan perdagangan yang kini dijadikan pendulum di era globalisasi ternyata bangunanya tidak sekokoh sebagaimana diprogandakan. Dalam prakteknya, bangunan itu rapuh adanya. Tanda-tanda kerapuhannya memang sudah terlihat, perputaran modal begitu cepat masuk di suatu negara dan juga pergi secepat kedatangannya, tak ada lagi batas yang mengatur pergerakannya. Tidak seperti sebelumnya, pergerakan modal tidak lagi memiliki keterkaitan yang utuh dengan sector riil dan investasi jangka panjang, penuh dengan tindakan spekulasi dan beorientasi jangka pendek, keuntungan. Sekali hentakan menimbulkan situasi yang tidak stabil. Hal ini kerap terjadi beberapa decade terakhir. Di tahun 1998, Meksiko, Thailand, Filipina, Indonesia, dll contoh nyata dari kondisi itu. Krisis kembali berulang dan terasa sekali sulit untuk disembuhkan, seperti kanker. Setiap episode lebalisasi selalu menciptakan krisis. Kondisi seperti ini yang disebut oleh Kavaljit Singh (2005), sebagai “krisis keuangan kambuhan” yang terjadi di negara-negara maju dan berkembang. Menurutnya, transaksi-transaksi yang dilakukan institusi-institusi keuangan terlalu jauh lebih rumit. Sehingga berakibat makin sulitnya pengaturan dilakukan oleh badan-badan regulator untuk melakukan penilaian terhadap bahaya yang terjadi secara sistemik terkait dengan transaksi-transaksi itu. Jauh sebelumnya, tesis Marx sudah memberi penegasan atas hal itu. Syarat fundamen tumbuh berkembanganya system kapitalisme menyaratkan konsentrasi dan penguasaan modal sebagai jawaban atas krisis sistemik terjadi pada akhir tahun 1870-an. Ketika itu, industry-industri besar bergabung dalam bentuk penyertaan modal, tumbuhnya berbagai monopoli perusahaan, pembagian teritori dunia menjadi koloni-koloni, ekspor modal dan perluasan pasar ke seluruh dunia (James Petras dan Henry Veltmeyer, 2002; hal 12). Pola itu kembali berulang, namun yang membedakan dengan krisis saat ini adalah efek destabilitas dalam skala yang lebih luas dan menglobal. Roda pergerakan modal di pasar keuangan jauh melampaui pergerakan modal sector riil. Di tahun 1990 misalnya, transaksi di pasar modal berjumlah lebih dari 1,2 triliun dollar per hari. Jumlah ini sama dengan total perdagangan barang dan jasa selama tiga bulan. Kendali sector riil berada di pasar-pasar keuangan, sehingga sector riil menjadi terpukul bila terjadi gejolak di pasar keuangan. Punjak kejayaan kapitalismen kini ambruk. Akibatnya, percepatan akumulasi dan penguasaan modal sebanding dengan daya rusak yang timbulkannya. Jurang ketimpangan makin terbentang lebar di antara negara kaya dengan berkembang dan miskin, ditambah dengan masalah social politik yang mengitarinya menjadi pelengkap semua itu. Di luar itu, akan muncul eneka konflik dan perang sebagai solusi atas krisis. Negara-negara berkembang dan miskin dibuat tergantung dengan utang luar negeri. Utang inilah yang menjadi sumber malapetaka, misalnya dalam 2 tahun terakhir jumlah penduduk miskin naik 220 juta orang, Indonesia satu diantaranya yang mengalami nasib seperti itu. Menurut Singh, menjinakkan arus globalisasi bisa jika ada kesungguhan melakukan reformasi regulasi keuangan yang tegas di mana peran negara tidak bisa dilepaskan di dalammnya. Pemerintah mesti merevisi kembali regulasi keuangan dan pasar modal dalam negeri. Sembari menerapkan aturan pajak dalam transaksi di pasar keuangan. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Konsultasi Hukum

Jika Anda punya persoalan menyangkut hukum. Silahkan konsultasikan kepada kami. Anda bisa datang langsung ke kantor kami. Konsultasi juga bisa melalui email. Melalui email silahkan klick sini












