Login Form






Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar

Random Photo

Syndicate

Beranda arrow Arsip Berita arrow Tahun 2009 arrow Ketika Para Anggota DPRD Sulteng Tidak Punya Rasa Empati dan Peduli
Ketika Para Anggota DPRD Sulteng Tidak Punya Rasa Empati dan Peduli PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengguna: / 0
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh Ferry   
Kamis, 19 Pebruari 2009

Masihkan pantas, masyarakat memilih para anggota DPRD Sulteng yang saat ini kembali maju mencalonkan diri menjadi Calon Anggota DPRD Sulteng pada pemilu 2009?? SILAHKAN ANDA Menilai sendiri setelah membaca berita dibawah ini...

Garda Sulteng, Kamis 19 Februari 2009
“Disambut Tarian, Lampu Dipadamkan

  Petani yang menjadi korban penggusuran oleh PT Kurnia Luwuk Sejati (KLS), menilai pelayanan yang diberikan oleh pihak DPRD Sulteng sangat mengecewakan saat mereka menginap semalam di kantor rakyat itu. Puluhan petani yang datang dengan membawa masalah tersebut Mengaku, pelayanan yang diberikan staf DPRD sangat tidak realistis dan bertoleransi. Pada saat petani sedangkan menginap di teras kantor DPRD untuk mendapatkan kejelasan nasibnya, para istri-istri anggota DPRD bersama para pegawai DPRD malah mengadakan tarian poco-poco tepat didepan mereka.

   “Inikan tidak ada toleransi namanya, masa ada masyarakat yang lagi susah menanti kepastian, para istri-istri anggota DPRD dan staf DPRD, asyik menari-menari didepan kita. Kalau memang ada jadwal menari, janganlah dilakukan didepan masyarakat yang lagi susah,” ujar salah seorang petani.
    Selain “disambut dengan tarian poco-poco, para pendemo juga Mengaku tidak mendapatkan fasilitas listrik selama mereka menginap.
   “Pada jam 8 malam listrik sudah dimatikan, sehingga tidak ada satupun bohlam lampu yang menyala sampai pagi, sehngga kami gelap gulita disini, untung nyamuknya Cuma sedikit,” ujarnya. FIT

Tunggu Pimpinan

   Sangat disayangkan, meski ada beberapa anggota DPRD Sulteng yang berkantor, namun tidak satupun anggota dewan menyapa para petani korban penggusuran oleh PT. Kurnia Luwuk Sejati (KLS) yang melakukan pendudukan kantor DPRD untuk menuntut hak mereka (rabu 18/2).
   Padahal sebagai wakil rakyat, seharusnya para anggota dewan turut memberikan sapaan atau menjalin keakraban dengan sesama pendemo. Namun, selama pendemo menghuni kantor rakyat itu, tidak satupun anggota dewan yang menengok maupun melakukan diskusi. Keberanian anggota dewan menemui pendemo, nanti terlihat pada saat wakil ketua DPRD menerima pendemo. “Mungkin mereka tidak berani kalau sendiri, jadi harus tunggu pimpinan dulu,” tutur pendemo. FIT
Pemutakhiran Terakhir ( Kamis, 18 Juni 2009 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >